Pendapatan Telkomsel di 2018 Turun, Ini Penyebabnya

Pendapatan Telkomsel di 2018 turun 4,3 persen dibanding setahun sebelumnya.

Agung Pratnyawan

Posted: Senin, 06 Mei 2019 | 07:45 WIB
Telkomsel. (Telkomsel)

Telkomsel. (Telkomsel)

Hitekno.com - Siapa sangka pendapatan Telkomsel  di 2018 ini turun hingga 4,3 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Pencapaian Telkomsel ini senada dengan situasi industri telekomunikasi yang pendapatannya anjlok 7,3 persen.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan turunnya pendapatan Telkomsel dianggap sebagai pelajaran untuk membenahi diri agar tidak mengalami kejadian serupa di tahun ini dan di masa yang akan datang.

Menurut Ririek, setidaknya ada tiga penyebab yang mengakibatkan turunnya pendapatan industri telekomunikasi.

Baca Juga: Segera Uji Coba Jaringan 5G, Smartfren Gandeng ZTE Corporation

Pertama adalah kebijakan registrasi kartu SIM. Dengan kebijakan ini, keutungan operator dari penjualan kartu perdana dipangkas habis.

Menurut Ririek, kebijakan ini lumrah mempengaruhi pendapatan operator seluler. Namun, itu hanya dalam jangka waktu pendek.

Bus swakemudi bertenaga listrik Telkomsel. [Suara.com/Aditya Gema Pratomo]
Bus swakemudi bertenaga listrik Telkomsel. [Suara.com/Aditya Gema Pratomo]

"(Registrasi kartu SIM) secara jangka pendek memang punya dampak negatif. Tapi jangka panjang malah memberikan dampak positif," kata Ririek di kawasan Gatot Subroto, Kamis (2/5/2019).

Baca Juga: Sambut Ramadan dan Lebaran, Indosat Ooredoo Siapkan Jaringan Terbaiknya

Dampak positif yang dimaksud Ririek adalah untuk mengurangi aksi penipuan lewat SMS dan telepon yang marak terjadi. Selain itu, operator juga akan bisa mengenali jumlah pelanggan yang loyal kepada operator.

Kedua, jelas dia, kompetisi tarif. Indonesia termasuk negara dengan tarif data termurah. Bagi konsumen, ini menguntungkan untuk jangka pendek.

Tapi dalam jangka panjang, perang tarif justru mengurangi pendapatan dan menguras biaya operasional para operator seluler. Seandainya operator tidak bisa bertahan, layanan kepada konsumen tentunya juga akan memburuk.

Baca Juga: Siapkan Jaringan 4G+, Smartfren Siap Jadi One Stop Companion Selama Ramadan

"Kalau enggak sustain layanan memburuk atau tutup. Yang rugi masyarakat, mana kala fasilitas tak tersedia," kata Ririek yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).

Ketiga adalah turunnya layanan legacy (telepon dan SMS). Menjamurnya aplikasi OTT, seperti WhatsApp dan Line, turut berpengaruh pada penurunan pendapatan operator.

Bahkan, 2018 menjadi tahun pertama bagi Telkomsel yang pendapatan dari layanan legacy (SMS dan telepon) menurun.

Baca Juga: Menuju Indonesia Digital 2025, Telkomsel Matangkan Kesiapan Teknologi 5G

"Revenue legacy 47 persen, sementara nonlegacy 53 persen. Di akhir kuartal satu 2019, nonlegacy mencapai 61 persen sedangkan legacy 39 persen," tutup Ririek.

Itulah penyebab pendapatan Telkomsel turun di tahun 2018 kemarin. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait
Berita Terkini

Program ini akan memungkinkan mitra Dell mengakses arsitektur berbasis AI seperti portofolioDell AI Factoryuntuk membant...

internet | 11:05 WIB

Resmi terbit sejak 11 Maret 2014 lalu, Suara.com terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai produk jurnalistik dan info...

internet | 18:07 WIB

Kamu harus memilih aplikasi yang telah terdaftar di BAPPEBTI....

internet | 13:00 WIB

Data kuartal 4 tahun 2024 dari PHVI dan PHRI tersebut menunjukkan banyak pertumbuhan pasar properti di berbagai kota....

internet | 14:37 WIB

Solusi SUSE Edge untuk ritel menjawab berbagai kebutuhan penting bagi para pelaku ritel dan menyediakan perangkat lunak ...

internet | 11:38 WIB